Thursday, December 6, 2012

MASAKAN ACEH KUAH PLIK - U

Makasakan Aceh Kuah Plik U merupakan sajian dari daerah Aceh sarat dengan bumbu dan rempah pekat. Pada umumnya cita rasa sajiannya mirip cita rasa dari dapur India. Mungkin karena pengaruh kedatangan pedagang dari Gujarat, India, pada zaman dulu. Rempah daun yang banyak dipakai di dapur Aceh adalah daun salam koja yang dikenal pula dengan istilah daun temurui. Biasanya orang Aceh menanam sendiri daun rempah ini di halaman rumah mereka. Sebab, daun salam koja hanya bisa diperoleh di pasar tradisional di pedagang khusus. Kuah plik u juga sangat enak bila dicampurkan tambahan seperti ikan tongkol di iris dan ikan asin tergantung pada selera kita.

* Bahan Gule Plik U :

 
*) 200 Gr Plik U
*) Nangka Muda
*) Pepaya Muda
*) Melinjo
*) Daun Melinjo, Rajang
*) Terong (Kalo Suka)
*) Kacang Panjang
*) 100 Gr Kacang Tanah (Boleh Lebih)
*) 100 Gr Udang (Boleh Lebih)
*) 3 Btg Serai, Rajang Pangkalnya, Memarkan Ujungnya
*) 15 Lbr Daun Jeruk, Dirajang Halus
*) 5 Siung Bawang Merah, Rajang
*) 2 Cm Lengkuas, Memarkan
*) 4 Gelas Santan
*) 1 Ons Cabe Hijau, Rajang Kasar (Klo Gak Suka Pedes, Kurangin Aja)
*) Garam

 

* Bumbu Halus :
 

*) 6 cabe kering
*) 3 cabe merah
*) 5 cabe rawit
*) 3 siung bawang putih
*) 5 siung bawang merah
*) 1/2 sdt jintan
*) 1 cm jahe
*) 2 cm kunyit
*) 1 sdt ketumbar

 

* Cara membuat :
 

*) Rendam plik u dengan air panas kira2 10 menit. Tiriskan. Cuci dengan air dingin. Tiriskan. Blender sampai halus.
*) Jerang air. Masukkan plik u dan bumbu halus plus garam.
*) Masukkan melinjo.
*) Masukkan kacang tanah dan udang.
*) Masukkan santan.
*) Masukkan sayuran yang sudah dipotong-potong (jgn terlalu kasar) dan semua bahan.
*) Masak sampai matang.
*) Santap dengan nasi hangat dan ikan asin goreng kering.

Wednesday, December 5, 2012

RATU SAFIATUDDIN DARI ACEH


 

Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah. Anak tertua dari Sultan Iskandar Muda dan dilahirkan pada tahun 1612 dengan nama Putri Sri Alam. Safiatud-din Tajul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia.” Ia memerintah antara tahun 1641-1675. Diceritakan bahwa ia gemar mengarang sajak dan cerita serta membantu berdirinya perpustakaan di negerinya. Safiatuddin meninggal pada tanggal 23 Oktober 1675.


Sebelum ia menjadi sultana, Aceh dipimpin oleh suaminya, yaitu Sultan Iskandar Tsani (1637-1641). Setelah Iskandar Tsani wafat amatlah sulit untuk mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu. Kemudian seorang Ulama Besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Sultana Safiatuddin diangkat menjadi sultana. Sultanah Safiatuddin memerintah selama 35 tahun, dan membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan.


Sejarah pemerintahan Sultana Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik. Dia memerintah pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOC dengan Portugis. Dia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab.


Pada masa pemerintahannya yang terdapat dua orang ulama penasehat negara (mufti) yaitu, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkil yang bergelar Teungku Syiah Kuala. Atas permintaan Ratu, Nuruddin menulis buku berjudul Hidayatul Imam yang ditujukan bagi kepentingan rakyat umum, dan atas permintaan Ratu pula, Abdurrauf Singkil menulis buku berjudul Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ratu Safiatuddin bukan saja mengutamakan kesejahteraan negerinya tetapi juga berusaha menjalankan pemerintahannya sesuai dengan hukum Islam.

SEJARAH IBU KOTA KABUPATEN ACEH BARAT ( MEULABOH )


 

Meulaboh adalah ibu kota Kabupaten Aceh Barat, Aceh, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 175 km tenggara Kota Banda Aceh di Pulau Sumatera. Meulaboh meliputi Kecamatan Johan Pahlawan,
sebagian Kaway XVI dan Kecamatan Meureubo. Meulaboh adalah kota kelahiran Pahlawan Nasional Teuku Umar Johan Pahlawan. Meulaboh merupakan kota terbesar di pesisir barat-selatan Aceh dan salah satu area bencana tsunami yang dipicu oleh gempa bumi Samudra Hindia 2004. Pekerjaan sebagian besar penduduknya mencerminkan kehidupan perkotaan, yakni perdagangan dan jasa.

Meulaboh dahulu dikenal sebagai Negeri Pasi Karam. Nama tersebut kemungkinan ada kaitannya dengan peristiwa terjadinya tsunami di Kota Meulaboh pada masa lalu, yang pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi kembali.

Catatan sejarah menunjukan bahwa Meulaboh sudah ada sejak 4 abad yang silam, yaitu pada masa Sultan Saidil Mukamil (1588-1604) naik tahta. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), negeri itu ditambah pembangunannya. Pada waktu itu mulai dibuka perkebunan merica, tapi negeri ini tidak begitu ramai karena belum dapat menandingi Negeri Singkil yang banyak disinggahi kapal dagang untuk memuat kemenyan dan kapur barus. Lalu pada masa pemerintahan Sultan Djamalul Alam, Negeri Pasi Karam kembali ditambah pembangunannya dengan memperluas pembukaan kebun merica. Untuk mengelola kebun-kebun itu didatangkan orang-orang dari Pidie dan Aceh Besar.

Pendapat lain mengatakan bahwa Meulaboh telah dikenal sejak abad ke XV, sementara para Datuk yang hijrah ke Meulaboh baru tiba pada abad ke XVIII, faktanya ada jarak waktu yang sangat jauh disini. Pendapat lain mengatakan, kata "Meulaboh" itu berasal dari bahasa Aceh yang umum digunakan oleh suku Aceh setempat.

Secara harfiah, Kata Meulaboh berasal dari kata "laboh", yang menurut Kamus Aceh-Indonesia terbitan Pusat Pembinaan Departemen Pendidikan, Lembaga Pengembangan dan Bahasa dan Kebudayaan Tahun 1985 yang disusun oleh Aboe Bakar dkk dijelaskan bahwa kata Laboh dalam bahasa Aceh artinya membuang, melemparkan, menjatuhkan, jatuh, turun, bergantung rendah: "pat ji Laboh pukat?" Di manakah mereka berpukat? "pakon laboh that tangui ija? Tapeumanyang bacut!" Mengapa Anda memakai kain rendah sekali?. Tinggikanlah sedikit. "bak jiplueng-plueng ka laboh di aneuk nyan", Ketika berlari-lari, jatuhlan anak itu. Meulaboh; teulaboh: dibuang, diturunkan, meulaboh; teulaboh saoh: Sauh sudah di buang, teungoh ji meulaboh: mereka sedang berlabuh.

Pendapat bahwa asal muasal penamaan Kota Meulaboh oleh orang Minang itu perlu dipertanyakan lagi, mengingat Kota Meulaboh sendiri telah ada sejak 402 tahun lalu, sedangkan Perang Paderi baru terjadi pada abad XVIII. Disamping itu, sebutan Meulaboh juga terdapat pada banyak tempat di Aceh Barat. Ada Babah Meulaboh, Tanjong Meulaboh, Meulaboh Dua (ini malah di Nagan Raya) dan Krueng Meulaboh. Nama itu sama umumnya dengan penggunaan kata "padang" pada kampung atau tempat-tempat di Aceh, karena dalam bahasa Aceh sendiri, kata "padang" dapat diartikan sebagai tempat atau tanah luas/lapang; misalnya: Kuta Padang, Padang Panyang, Padang Sikabu, Blang Padang, Padang Tiji dan lain-lain. Berdasarkan fakta tersebut, kisah pendaratan warga Minang di Pasi Karam belum dapat dijadikan bukti konkrit bahwa nama itu diberi oleh orang Minang.

Kedatangan para Datuk itu benar adanya, namun ada pendapat yang menyebutkan bahwa mereka itu orang Aceh yang didatangkan kesana pada masa Sultan Iskandar Muda, yaitu ketika Aceh menguasai Sumatera Barat. Para petinggi Aceh di ranah Minang itu menjadi pemangku adat dan pemerintahan. Namun peran mereka tereduksi akibat adanya reformasi yang dilakukan kaum paderi yang terpengaruh paham Wahabi di Arab Saudi. Tercatat tiga orang ulama yang pulang dari mengikuti pendidikan di Arab. Mereka adalah Haji Piobang, Haji Miskin dan Haji Sumanik. Ajaran pembaruan Islam yang dibawa tiga orang haji ini, membuat gundah masyarakat Minangkabau yang waktu itu beraliran Sunni. Karena terdesak oleh kaum paderi, para datuk itu ingin pulang kampung (kembali ke Aceh) dan sebagian lagi tidak.

Sekembalinya ke tanah leluhur, para Datuk dan rombongannya itu hidup berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan ada yang menjadi pemimpin, di antaranya: Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Mereka menebas hutan dan mendirikan pemukiman yang menjadi tiga daerah. Datuk Machdum Sakti membuka negeri di Mereubo, kemudian pindah kearah Woyla, Datuk Raja Agam di Ranto Panyang dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh di Ujong Kala yang kemudian menikah dengan anak salah seorang yang berpengaruh di sana.

Menurut H.M Zainuddin, ketiga Datuk utama tersebut juga memerintahkan warganya untuk membuka ladang, sehingga kehidupan mereka jadi makmur. Ketiga Datuk itu pun kemudian sepakat untuk menghadap Sultan Mahmudsyah (1830-1839) untuk memperkenalkan diri.

Ketika menghadap Sultan, masing-masing Datuk membawakan satu botol mas urai sebagai buah tangan. Mereka meminta kepada raja Aceh agar memberikan batas-batas negeri mereka. Permintaan itu dikabulkan, Raja Alam Song Song Buluh kemudian diangkat menjadi Uleebalang Meulaboh dengan ketentuan wajib mengantar upeti tiap tahun kepada bendahara kerajaan.

Para Datuk itu pun setiap tahun mengantar upeti untuk Sultan Aceh, tapi lama kelamaan mereka merasa keberatan untuk menyetor langsung ke kerajaan, karena itu mereka meminta kepada Sultan Aceh yang baru Sultan Ali Iskandar Syah (1829-1841) untuk menempatkan satu wakil Sultan di Meulaboh sebagai penerima upeti. Permintaan ketiga Datuk itu dikabulkan oleh Sultan, dikirimlah ke sama Teuku Tjiek Lila Perkasa, Wazir Sultan Aceh untuk pemerintahan dan menerima upeti-upeti dari Uleebalang Meulaboh.

Para Datuk itu merasa sangat senang dengan kedatangan utusan Sultan yang ditempatkan sebagai wakilnya di Meulaboh itu. Mereka pun kemudian kembali meminta pada Sultan Aceh untuk mengirim satu wakil Sultan yang khusus mengurus masalah perkara adat dan pelanggaran dalam negeri. Permintaan itu juga dikabulkan, Sultan Aceh mengirim kesana Penghulu Sidik Lila Digahara yang menyidik segala hal yang berkaitan dengan pelanggaran undang-undang negeri.

Permintaan itu terus berlanjut. Kepada Sultan Aceh para Datuk itu meminta agar dikirimkan seorang ulama untuk mengatur persoalan nikah, pasahah dan hukum Syariat. Maka dikirimlah kesana oleh Sultan Aceh Teuku Tjut Din, seorang ulama yang bergelar Almuktasim-billah untuk menjadi kadhi Sultan Aceh di Meulaboh, keturunan dari Teuku Tjut Din ini adalah H. Teuku Alaidinsyah atau H. Tito dan Teuku H. A. Dade

Kemudian Meulaboh masuk dalam Federasi Kaway XVI karena fedrasi itu dibentuk oleh enam belas Uleebalang, yaitu Uleebalang Tanjong, Ujong Kala, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peureumbeu, Gunoeng Meuh, Kuala Meureuboe, Ranto Panyang, Reudeub, Lango Tangkadeuen, Keuntjo, Gume/Mugo, Tadu, serta Seuneu’am, yang diketuai oleh Ulee Balang Ujong Kalak.

Tuesday, December 4, 2012

TARI RANUP LAMPUAN
















Tari Ranup Lampuan merupakan salah satu karya seni monumental yang dilahirkan oleh para seniman Aceh. Meski hampir selalu menjadi suguhan utama dalam setiap upacara penyambutan tamu di Aceh, namun tidak banyak masyarakat Aceh yang tahu tentang asal usul dan siapa pencipta tari ini.

Tari Ranup Lampuan diciptakan tahun 1959 oleh almarhum Yuslizar, yang lahir di Banda Aceh pada 23 Juli 1937. Selain menciptakan TRL, Yuslizar juga menciptakan Tari Meusare-sare, Bungong Sieyueng-yueng, Tron U Laot, Poh Kipah, Tari Rebana, dan Sendratari Cakra Donya Iskandar Muda.

Tari ini, pada mulanya hanya terdapat di Kotamadya Banda Aceh. Akan tetapi dengan cepat tersebar ke kabupaten dan kota lainnya di seluruh Aceh. Tari yang diangkat dengan latar belakang kebiasaan masyarakat Aceh menyambut tamu ini setiap gerakannya mempunyai arti tersendiri. Seperti gerakan salam sembah, memetik sirih lalu membuang tangkainya, membersihkan sirih, menyapukan kapur, lalu memberi gambir dan pinang.

Pada awalnya, tari ini tidak menggunakan selendang sebagai properti, dan penarinya memakai sanggul Aceh yang tinggi dihiasi hiasan kepala. Tarian yang berdurasi tiga sampai sembilan menit ini diiringi orkestra atau band. Hingga kini tarian ini eksis di Aceh, begitu juga dengan Tari Meusare-sare yang juga diciptakan Yuslizar.

Ranub Lampuan merupakan kreasi mentradisi setelah menjalani proses panjang untuk menjadi tari tradisi dengan terus menyesuaikan diri sesuai zaman. Maka tahun 1959 ketika tim kesenian Aceh akan melakukan lawatan kerajaan ke Malaysia dalam rangka pertukaran cendramata, tari Ranub Lampuan dimodis dengan menambah tiga orang penari pria, dua penari sebagai pemegang pedang dan satu penari sebagai pemegang vandel. Ranub Lampuan awalnya ditampilkan khusus di atas pentas (stage). Pertunjukan tersebut diadakan di meuligoe gubernur dengan menyaiapkan pentas khusus untuk penampilan tari ini. Ketika Lembaga Kebudayaan Aceh (LKA) menggalakkan adat-adat Aceh, tarian Ranup Lampuan mulai tampil di luar halaman.

Monday, December 3, 2012

PO CUT LAKSAMANA KEUMALA HAYATI ( ACEH )


Laksamana Keumala Hayati, Namanya tenggelam dibalik nama besar Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutiah serta nama-nama pahlawan wanita yang muncul setelah jamannya. Tak banyak yang tahu kisahnya, tak banyak yang mengenal siapa dirinya meski namanya melekat di lambung salah satu kapal perang kebanggaan negeri ini KRI Malayati.

Ketika dunia masih sibuk membincangkan kesetaraan gender, di Aceh pada abad 15 telah muncul seorang perempuan perkasa yang memimpin di garis depan, Laksamana Keumalahayati Dialah perempuan pertama di dunia yang memegang pucuk pimpinan tertinggi sebagai Panglima Angkatan Laut Armada Selat Malaka kerajaan Darud Donya Darussalam dan pernah berjuang melawan Portugis hingga ke Johor. Putri dari Laksamana Mahmud Syah kakeknya Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah pendiri kerajaan Aceh Darussalam.

Keumalahayati yang biasa dipanggil Malahayati, menempuh pendidikan di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Malayahati mengambil jurusan Bahari (Angkatan Laut) sesuai dengan jiwa bahari yang mengalir dalam darahnya yang diturunkan dari ayah dan kakeknya. Sebelum menjadi Pangima Angkatan Laut, ia menjabat sebagai Komandan Protokol Istana di Kesultanan Aceh Darussalam. Ketika suaminya Laksamana Mahmuddin bin Said Al Latief gugur dalam pertempuran di Teluk Haru, Keumalayahati diangkat oleh Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil untuk menggantikan posisinya sebagai Panglima Armada Selat Malaka.

Atas persetujuan Sultan Al Mukammil, Keumalahayati memimpin perjuangan dan pergerakan dibantu pasukan Inong Balee (pasukan janda) yaitu armada Aceh yang kesemua anggotanya perempuan para janda yang suaminya meninggal saat perang Teluk Haru. Armada Inong Balee berkekuatan 1000 orang membangun kekuatan militernya di Bukit Krueng Rayeuk sebagai benteng pertahanan.

Selain menguasai bahasa ibunya bahasa Aceh dan Melayu, Po Cut Nyak Laksamana Keumala Hayati fasih berbicara dan menulis dalam bahasa Arab, Turki, Inggris, Perancis dan Spanyol. Ia memikul tanggung jawab memimpin 60.000 marinir dan 400 kapal perang saat menjaga Kedaulatan Aceh Darussalam yang saat itu terganggu oleh armada laut koalisi Eropa pimpinan Portugis di perairan Selat Malaka. Ia yang meminta Tuha Peuet Kesultanan Aceh Darussalam untuk memakzulkan Sultan Ali Riayat Syah yang tak berbakat dan mengangkat Darmawangsa untuk menjadi Sultan Aceh Darussalam yang kemudian bergelar Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam (1607-1636 M).

Selama ini kita kenal Po Cut Nyak Laksamana Keumala Hayati sebagai seorang laksamana perang. Kehebatannya yang paling banyak disebut adalah kemampuan menyusun strategi dan memimpin pasukan perang yang hampir tidak bisa dibandingkan dengan panglima perang atau laksamana lelaki manapun dari negara di dunia saat itu.

Saat itu dunia dipimpin oleh Kekhalifahan Turki Usmani dengan bentuk persekutuan sederajat. Kesultanan Aceh Darussalam merupakan sekutu terbesar Turki Usmani di Asia Tenggara dengan diberi hak mengibarkan bendera kekhalifahan saat menghalau penguasaan Asia Tenggara oleh pasukan Persekutuan Kristen Eropa pimpinan Portugis. Bendera yang berwarna dasar merah pekat tersebut akhirnya jadi bendera resmi Kesultanan Aceh Darussalam. Bendera tersebut kemudian ditambah garis hitam putih oleh Hasan Tiro saat menyatakan Gerakan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976.

Sampai kini di Istanbul, tamu-tamu dari Aceh dihormati dengan baik. Kota inilah ibukota Turki masa Kekhalifahan Usmani selama ratusan tahun yang wilayahnya masuk ke Benua Eropa dipisahi oleh Selat Bosporus dengan benua Asia. Penjaga tempat bersejarah di sana selalu bisa menunjukkan “di sinilah Sultan II Selim duduk saat mengeluarkan perintah untuk mengirim para ahli perang dan ahli pembuat senjata menuju Kesultanan Aceh Darussalam.

Orang-orang Aceh, terutama tokoh masyarakat, pemerintah, dan budayawan diharapkan mampu mengangkat nama Laksamana Keumala Hayati ke muka dalam peradaban Aceh sekarang. Kita sebaiknya belajar dari semangat dan filosofi hidup perempuan perkasa ini sebagai manusia merdeka. Perempuan yang melegenda di seluruh dunia ini sebaiknya dijadikan ikon kebangkitan Aceh. Tidak cukup dengan nama pelabuhan, nama jalan, nama kelompok militer, Po Cut Nyak Laksamana Keumala Hayati seharusnya juga dijadikan teladan di Aceh dan di negeri lain.

Ke manakah para pencinta dan pakar sejarah di Aceh. Mengapa hari kebesaran Laksamana Keumala Hayati belum pernah diperingati. Jika kini tidak ada Bapak pemersatu Aceh, mengapa Po Cut Nyak Laksamana Keumala Hayati belum kita jadikan Ibu kita seluruh orang Aceh. Pemimpin dan orang Aceh sebaiknya segera mengambil makna dari peristiwa dan tokoh dalam sejarah, supaya dalam menghadapi zaman yang mendua ini hari-hari kita akan bertahan dan menang kembali.

Sunday, December 2, 2012

SEJARAH SUKU KLUWAT ACEH SELATAN



Kabupaten Aceh Selatan dengan ibukotanya Tapaktuan merupakan salah satu kota yang kaya sejarah di provinsi Aceh. Banyak situs budaya yang layak dijadikan objek wisata islami di daerah itu. Sayangnya, semua terkesan ‘tenggelam’ atau hilang seiring waktu.


Tak hanya objek wisata, sejumlah suku, bahasa, termasuk wilayah pun terkesan dilupakan. Sebut saja di antaranya suku dan wilayah Kluwat. Diwilayah tersebut terdapat sebuah suku yakni Suku Kluwat yang merupakan satu di antara dua suku lainnya seperti Suku Aceh dan Suku Aneuk Jamee yang hidup di wilayah Aceh Selatan. Suku ini umumnya terdapat di wilayah Kluet Utara, Kluet Timur, Kluet Tengah, dan Kluet Selatan.


Sejarah Suku Kluwat Menurut sejumlah literatur, kajian sejarah Kluet sangat erat kaitannya dengan Kerajaan Laut Bangko (Bukhari RA). Laut Bangko dulunya merupakan sebuah danau mini yang berlokasi di tengah hutan Taman Nasional Gunung Leuser, bagian barat, yang berbatasan dengan Kecamatan Bakongan dan Kecamatan Kluet Timur, saat ini.


Dikisahkan bahwa Kerajaan Laut Bangko ini pernah megah tempoe doeloe. Raja yang terakhir yang sempat memimpin kerajaan tersebut, menurut Bukhari, bernama Malinda dengan permaisuri Rindi. Setelah rajanya meninggal, daerah ini tenggelam kala banjir besar melanda.


Penduduknya kemudian berusaha mencari daratan baru, sebagain ke Tanah Batak, sebagian ke Singkil, sebagian ada yang masih tetap pada lokasi semula dengan mencari dataran tinggi yang baru. Dari sini kemudian timbul pendapat terjadinya kemiripan bahasa antara bahasa Kluwat dengan bahasa Batak, bahasa Alas, bahasa Karo, dan bahasa Singkil.


Sumber sejarah lisan lainnya menyebutkan bahwa saat berkecamuk perang dahsyat di Aceh, ada sebuah komunitas masyarakat kala itu yang terpecah-pecah akibat menyelamatkan diri. Ada yang lari ke wilayah Kerajaan Kecil Chik Kilat Fajar di Aceh selatan, ada yang melarikan diri ke pedalaman-pedalaman lainnya dalam wilayah yang sama. Yang berada di wilayah Chik Kilat Fajar kemudian membuka komunitas sendiri, yaitu di kaki gunung Kalambaloh. Sedangkan di wilayah lainnya, juga membuat komunitas sendiri pula sehingga masih terdapat kemiripan bahasa antara yang berada di wilayah Aceh selatan (Chik Kilat Fajar) dengan beberapa wilayah lainnya seperti Singkil, dan Tanoh Alas, termasuk Sumatera Utara.


Terlepas dari sejarah yang sulit ditemukan kekonkretannya itu, wilayah Kluet tetap diakui sebagai satu kesatuan dalam Kabupaten Aceh Selatan. Pengakuan ini sejak daerah tingkat II Aceh Selatan masih tersebar hingga ke Singkil, Subulussalam, dan Aceh Barat Daya. Hanya saja, mulanya Kluet masa itu dua wilayah saja, yakni Kluet Utara dan Kluet Selatan. Kluet Utara beribukotakan Kotafajar dan Kluet Selatan ibukotanya Kandang.


Dalam suku kluwat dikenal dua macam syair dalam kearifan masyarakat Kluwat: syair mebobo dan syair mekato. Syair mebobo biasanya digunakan oleh rombongan pengantar pengantin laki-laki (linto baro). Sedangkan syair mekato, merupakan pantun yang berbalas-balas antara rombongan mempelai laki dan rombongan mempelai perempuan.


Syair mebobo juga kerap digunakan saat melepas anak pergi ke rantau atau saat sunat rasul. Kebiasaan ini masih hidup dalam masyarakat Kluwat hingga sekarang. Dalam masyarakat ini berlaku juga mitos-mitos semisal merampot disamun makhluk halus. Namun demikian, nilai-nilai keislaman juga masih kokoh di sana, di samping nilai gotong royong dan silaturrahmi. Karena itu, sangat disayangkan jika daerah ini kemudian terkesan abai dari perhatian pemerintah. Apalagi, di tengah kecamuk internal dalam masyarakat itu sendiri.

Saturday, December 1, 2012

TEUNGKU CHIK DI TIRO ( ACEH )

Tgk Chik Di Tiro bernama asli Muhammad Saman. Ia adalah putra dari Tengku Syeh Abdullah, anak Tgk Syeh Ubaidillah dari kampung Garot negeri Samaindra, Sigli. Ibunya bernama Siti Aisyah, putri dari Tgk Syeh Abdussalam Muda Tiro anak Leube Polem Tjot Rheum, kakak dari Tgk Chik Muhammad Amin Dajah Tjut. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat. Mulai mengobarkan perang kepada Belanda sejak tahun 1874 sampai ia meninggal pada 25 Januari 1891.
Tgk Chik Di Tiro mempunyai lima orang putra yaitu: Tgk Mat Amin (wafat 1896), Tgk Syeh Mayed (wafat 5 September 1910), Tgk Di Toengkob alias Tgk Beb (wafat 1899), Tgk Lambada (wafat 1904) Tgk Di Boeket alias Tgk Moehamad Ali Zainoel Abidin (wafat 21 Mei 1910) .

Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Tgk Chik Di Tiro sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikannya dalam kehidupan nyata. Tgk Chik Di Tiro menerima penunjukkan menjadi panglima perang oleh rakyat dan para ulama.

Selama Gubernur Van Teijn berkuasa Belanda mempergunakan strategi “Wait and See” yaitu menunggu sampai keadaan berubah. Kenyataannya strategi yang diterapkan Belanda ini hasilnya jauh dari yang diharapkan. Belanda sering terpukul mundur pada banyak pertempuran. Akhirnya, untuk mengimbangi pasukan Aceh, Belanda membentuk satu korps tentara baru yang disebut Korps Marsose di bawah pimpinan J. Notten padatanggal 2 April 1890.

Walaupun Belanda membentuk korps Marsose Tgk Chik Di Tiro terus bertempur melawan Belanda tidak kurang dahsyatnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semangat pasukan pun tidak pernah pupus menghadapi Belanda. Selama tahun 1890 Tgk Muhammad Amin putera Tgk Chik Di Tiro yang tertua sudah ikut memimpin pasukan. Beberapa kali ia mendapat luka dan terpaksa diangkut ke Aneuk Galong.

Kobaran semangat perang juga digelorakan dengan gubahan hikayat Prang Sabi. Di antara para penggubah hikayat heroic itu adalah: Syaikh Abdul al-Samad al-Falimbany, Tgk Chik Di Tiro, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad alias Tgk Chik Kutakarang, Tgk Ahmad Ibnu Mahmud, Tgk Pante Kulu, Abdul Karim alias Dokarim.