Saturday, December 29, 2012

SYAHID LAPAN ( ACEH )





Tak jauh dari Kuta Gle, sekitar beberapa belas kilometer ke arah timur. sebuah situs sejarah perjuangan melawan Belanda juga terdapat di Desa Tambue Kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireuen. Situs tersebut berupa makam delapan pejuang yang dinamai Syahid Lapan. Dinamakan makam Syahid Lapan, karena di situ dimakamkan delapan pejuang yang gugur melawan Belanda. Mereka adalah Tgk Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Balee Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Syehk Lancok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, dan Nyak Ben Matang Salem Blang Teumulek.

Kisah keheroikan para Syuhada Lapan sangat jelas tertulis pada dinding makam, pasukan pribumi binaan Belanda itu berjumlah 24 orang. Mereka semuanya bersenjata api, sedangkan pasukan delapan pejuang Aceh tersebut hanya bersenjatakan pedang. Mereka berhasil menewaskan semua serdadu Belanda tersebut.

Setelah pasukan Lapan berhasil melumpuhkan semua serdadu Belanda, lalu mereka mengumpulkan senjata milik penjajah tersebut. Tanpa mereka sadari tiba-tiba sejumlah serdadu Belanda lain datang dari arah Jeunieb memberi bantuan, Kedelapan pejuang itu diserang secara membabi buta dan gugur bersimbah darah. Jasad para syuhada tersebut kemudian dikebumikan dalam satu liang.

Kini, saban hari makam Syuhada Lapan banyak didatangi orang yang ingin bernazar. Bukan hanya dari Kabupaten Bireuen, tapi juga dari daerah lainnya di luar Kabupaten Bireuen. Para pengguna jalan juga selalu berhenti sebentar begitu tiba di depan kuburan Syuhada Lapan untuk memberi sumbangan.

Friday, December 28, 2012

SEKILAS SEJARAH TEUNGKU FAKINAH (ACEH )

Teungku Fakinah adalah seorang wanita yang menjadi ulama besar dengan nama singkatnya disebut Teungku Faki , pahlawan perang yang ternama dan pembangunan pendidikan ulung. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1856 M, di Desa Lam Diran kampung Lam Beunot (Lam Krak). Dalam tubuh Beliau mengalir darah ulama dan darah penguasa/bangsawan. Ayahnya bernama Datuk Mahmud seorang pejabat pemerintahan dalam zaman Sultan Alaidin Iskandar Syah. Sedangkan ibunya bernama Teungku Muhammad Sa'at yang terkenal dengan Teungku Chik Lam Pucok, pendiri Dayah Lam Pucok, tempatnya Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman belajar.

Sesudah Teungku Fakinah dewasa, dalam tahun 1872 dikawinkan dengan Teungku Ahmad dan Aneuk Glee oleh orang kampung Lam Beunot. Teungku Ahmad yang dipanggil Teungku Aneuk Glee ini membuka satu Deah/perguruan (pesantren) yang dibiayai oleh mertuanya Teungku Muhammad Sa'at atas dukungan orang Lam Beunot dan Imuem Lam Krak. Pesantren ini banyak dikunjungi oleh pemuda dan pemudi dari tempat lain disekitar Aceh Besar, bahkan ada juga yang datang dari Pidie. Tatkala menentang serangan I Belanda, Teungku Imam Lam Krak serta Tengku Ahmad/Teungku Aneuk Glee tarot dalam pasukan VII Mukim baet mempertahankan Pantai Cermin tepi laut Ulee Lheu yang di komandokan oleh panglima Polem Nyak Banta dan Rama Setia.

Dalam pertahanan perang itu pada tanggal 8 April 1873 tewaslah Panglima perang besar Rama Setia, Imeum Lam Krak, Tengku Ahmad Anuek Glee suami dari Tengku Fakinah dalam membela Tanah Air. Semenjak Tengku Fakinah telah menjadi janda yang masih remaja. Maka semenjak itulah beliau membentuk Badan Amal Sosial untuk menyumbang Darma Baktinya terhadap Tanah Air yang terdiri dari janda-janda dan wanita-wanita lainnya untuk menjadi anggota amal tersebut Badan yang didirikannya itu mendapat dukungan dari kaum Muslimat disekitar Aceh Besar yang kemudian berkembang sampai ke Pidie.

Anggota Badan Amal Sosial ini menjadi sangat giat dalam mengumpulkan sumbangan rakyat yang berupa perbekalan berupa padi dan uang. Selain dari anggota yang bergerak mengumpulkan perbekalan peperangan, bagi anggota yang tinggai di tempat, mereka sibuk mempersiapkan makanan untuk orang yang datang dari luar seperti Pidie, Meureudu, Salamanga, Peusangan dan lain-lain untuk membantu perang dan menuangkan timah untuk pelor senapan, semua pekerjaan itu dibawah pimpinan Teungku Fakinah.

Teungku Fakinah merupakan Panglima Perang melawan agresi Belanda, tidak mau tetap dikediamannya, bahkan hilir mudik keseluruh segitiga Aceh Besar untuk menjalankan Diplomasi, mendatangi rumah orang-orang besar dan orang-orang kaya untuk meminta zakat dalam rangka membantu peperangan Aceh yang sedang berkecamuk. Dan kegiatan yang dilakukannya itu, memperoleh hasil yang lebih besar yang kemudian disalurkan sebagai biaya peperangan.

Thursday, December 27, 2012

PEUDEUNG ON TEUBEE ( ACEH )

Selain rencong dan siwah, di Aceh juga banyak jenis senjata tajam dalam bentuk pedang, termasuk jenisnya. Mungkin ada sekitar 10 jenis pedang yang sangat terkenal di Aceh. Namun, di sini hanya akan diuraikan satu jenis pedang yang terkenal di Aceh, baik bentuk, kegunaan dan cara memakainya. Pedang-pedang itu sendiri kini sudah langka. Salah satu jenis pedang sangat terkenal di Aceh adalah Peudeung On Teubee (pedang daun tebu). Dinamakan demikian karena bentuk mata pedang ini mirip daun tebu, yaitu tipis dan panjang. Pedang ini sangat ampuh dipergunakan saat perang melawan kompeni pada abad-abad lalu di Aceh.

Yang menarik dari bentuk pedang ini adalah gagangnya. Pada gagang pedang ini ada pelindung tangan yang terbungkus besi baja. Di kedua sisi pangkal matanya terdapat besi penjepit yang panjangnya sekitar 10 cm, penjepit yang ada pada pangkal gagang berguna untuk mematahkan pedang musuh jika pedang musuh masuk ke penjepit ini.

Peudeung On Teubee (pedang daun tebu) ini juga dihiasi dengan tampok (gagang) di ujung gagangnya seperti tampok kupiah meuketop (mahkota). Gagang ini berbentuk bintang tiga lapis, tapi lebih kecil dari tampok kupiah karena harus disesuaikan dengan gagang pedang. Biasanya gagang ini terbuat dari emas atau perak yang diukir dan dihiasi permata. Begitu pula pada penahan (pelindung) tangan, juga dilapisi emas atau perak yang diukir dengan motif-motif khas Aceh yang indah. Di ujung gagang, terdapat besi bulat yang dibungkus emas dalam bentuk runcing. Gunanya, bila tiba-tiba ada musuh dari belakang bisa ditusuk tanpa harus memutar badan.

Sunday, December 23, 2012

SIWAH ( ACEH )

Senjata ini sejenis dengan rencong yang juga merupakan senjata untuk menyerang. Bentuknya hampir sama dengan rencong tetapi siwah ukurannya melebihi dari rencong. Siwah sangat langka ditemui, selain harganya mahal, juga merupakan bahagian dari perlengkapan raja-raja atau ulebalang-ulebalang. Namun demikian untuk siwah yang telah diberikan hiasan emas dan permata pada sarung dan gagangnya lebih berfungsi sebagai perhiasan dari pada sebagai senjata.

Friday, December 21, 2012

JEUNGKI ( ACEH )




Era keperkasaan jeungki kini tergusur oleh kecanggihan teknologi mesin, suara alunan jeungki yang beraturan itu kini sudah jarang terdengar seiring waktu diguras modernisasi. Alat tumbuk tradisional itu terbuat dari kayu pilihan yang kuat, dan batu yang dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti mangkuk. Teknologi era penjajahan ini tidak menggunakan energi fosil sehingga ramah lingkungan dan membuat penggunanya sehat.

Cara kerja alat ini digerakkan dengan ujung kaki yang dihentak, titik tumpang lebih ke ujung pengungkit sehingga memberikan pukulan yang lebih keras, di ujung pengungkit dipasang suatu kerangka terdiri atas dua bagian tegak lurus yang dihubungkan oleh kayu as (penggerak) harizontal sepanjang minimal empat meter sehingga jeungki naik dan turun, diujung sisi yang lain tempat dipasangkan alu (alèe) panjang kira-kira 50 cm untuk menumbuk pada lesung. Ada tiga komponen utama sebuah jeungki yaitu; jeungki, alu dan lesung (lusông).

Pada proses kerja alat ini juga diperlukan keahlian khusus, terutama orang yang bertugas di bagian lesung, karena bahan yang ditumbuk di dalam lesung diatur secara manual dengan tangan agar tumbukan tidak keluar dari lesung (lusông). Biasanya alat ini dioperasikan oleh kaum ibu.

Akan tetapi sedikit banyaknya jeungki ini masih terdapat di kampung-kampung, walaupun ada yang tidak digunakan lagi, dan di kota-kota besar sebagai barang hiasan masyarakat kelas atas dan para kolektor benda-benda sejarah. Tak ada lagi yang indah dari alat manual ini kecuali kenangan, mungkin 10 tahun ke depan alat ini tinggal nama, satu bagian budaya hilang bersama arus kemajuan peradaban.

Wednesday, December 19, 2012

LONCENG CAKRA DONYA ( ACEH )

Lonceng Cakra Donya merupakan benda bersejarah yang kini merupakan salah satu koleksi Museum Aceh. Menurut sejarahnya lonceng ini diberikan oleh kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh, sebagai ikatan persahabatan antara kerajaan China dengan Kerajaan Aceh.

Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo(Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi.

Pada dasarnya Lonceng Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Lonceng Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut. Rantai Lonceng Cakra Donya panjangnya 9,63 cm adalah rantai besi yang dahulu pernah dipakai untuk menggantung Lonceng Cakra Donya pada pohon kuda-kuda di depan Mesjid Baiturrahim dalam kompleks Istana Kesultanan Aceh Darussalam sampai tahun 1915.

TGK. HAJI HASAN KRUENG KALEE ( ACEH )

 Sejak kecil Tgk. Haji Hasan Krueng Kalee sudah mendapatkan pendidikan agama dari ibunya sendiri disamping ayahnya. Teungku Haji Muhammad Hanafiah, terutama membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Ibunya juga seorang anak ulama yaitu Nyakti Hafsah binti Tgk Syaikh Ismail Krueng Kalee. Dalam pengasingannya di Pidie beliau sebagai guru wanita di mukim Sangeue Kabupaten Pidie. Sedangkan pelajaran agama lainnya seperti nahu, sharaf, ilmu fiqh, ilmu ma’ani, ilmu tafsir, sejarah Islam dan sebagainya beliau diajarkan langsung oleh ayahnya, yaitu Tgk Haji Muhammad Hanafiah (Tgk Haji Muda). Selain itu, pendidikan dasar Tgk Haji Hasan Krueng Kalee adalah membaca kitab-kitab yang berbahasa Melayu Jawa selain membaca Al-Qur’an pada Syaikh Umar Lam-Ue di Keudah, ayah Tgk Hasballah Indrapuri, kemudian pada Syaikh Abdul Maniem di Mekkah serta mempelajari juga kitab-kitab jawa sampai ke tingkat tinggi, seperti Madlail Badraini dan Minhajul ’Abidin. Kemudian beliau mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab di Keudah – Malaysia, kemudian ke Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.

Tgk Haji Hasan Krueng Kalee yang telah menjadi muda remaja berangkat ke Keudah – Malaysia untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang telah beliau pelajari. Selain itu, keberangkatan beliau ke Keudah adalah atas dorongan Teuku Raja Keumala, Tgk Syaikh Ibrahim Lambhuk disamping ayahanda beliau sendiri, disana beliau memperdalam ilmu pengetahuan selama beberapa tahun. Sudah semenjak lama, Dayah di Keudah menjadi pusat pendidikan Islam di Semenanjung tanah Melayu, dimana para sultan Kerajaan Aceh Darusssalam mengirim ulama-ulama besar kesana untuk membangun dayah sebagai lembaga pendidikan utama untuk daerah-daerah Tanah Seberang.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam abad ke-16 dan 17, terutama dalam masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam (1016-1045 H, atau 1607-1636), sebagian besar semenanjung tanah Melayu, termasuk Keudah, berada dibawah perlindungan Kerajaan Aceh Darussalam. Demikianlah, Dayah berjalan baik dari zaman ke zaman, sehingga pecah peperangan di Aceh antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Belanda. Dan setelah pecah peperangan yang dahsyat itu, maka sejumlah ulama-ulama besar hijrah ke Keudah, yang tidak diminta untuk memimpin peperangan, sehingga Dayah waktu itu menjadi pusat pendidikan Islam, juga untuk putra-putri Aceh yang wilayah negaranya sedang dibakar api peperangan.

Dalam peperangan sedang berkecamuk di Aceh itu, salah seorang diantara putra-putranya yang bertolak ke Keudah, yaitu Hasan, putra Teungku Haji Muhammad Hanafiah, yang sedang kita bicarakan ini, dan yang memimpin Dayah dikala pemuda Hasan tiba disana, yaitu Teungku Haji Muhammad Arsyad.

Tgk Haji Hasan Krueng Kalee yang telah mempunyai pengetahuan cukup dalam hal agama Islam dan telah lancar mempergunakan bahasa Arab. Atas persetujuan gurunya pada tahun 1910 beliau berangkat ke tanah suci dalam rangka menunaikan rukun Islam yang ke Lima (ibadah Haji) serta untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi pada pusat pendidikan Islam Masjidil Haram Makkah.

Disana beliau memperdalam ilmu pengetahuan agama pada Syaikh-syaik terkenal di Mekkah. Diantara guru-guru beliau selama berada di Mekkah adalah Syaikh Said Al-Yamani Umar bin Fadil, Syaikh Khalifah, Syaikh Said Abi Bakar Ad-Dimyaty dan Syaikh Yusuf An-Nabhany.

Selain pengetahuan Islam secara umum, pemuda Hasan khusus mendalami ilmu tauhid, fiqh (hukum Islam), tafsir, ilmu falaq, ilmu tasawwuf, dan sejarah Islam, dimana akhirnya Tgk Haji Hasan Krueng Kalee mendapat ijazah dalam ilmu-ilmu tersebut, sehingga karena dia telah boleh memakai lakab ulama di muka namanya. Di tiap-tiap jenjang lamanya Tgk Haji Hasan Krueng Kalee belajar tujuh tahun sehingga sampai dapat membaca Fathul Mu’in, Minhajul ’Abidin, serta sudah bisa membaca kitan Mahally (Qalyubi wa ‘Umairah) dan Fathul Wahab.