Thursday, January 17, 2013
Tuesday, January 15, 2013
SYECH MUDA WALY AL-KHALIDY ( ACEH )
Syech Muda Waly al-Khalidy An-Naqsyabandy
Al-Asyiy atau lebih dikenal Syech Muda Waly Al khalidy dilahirkan di
Desa Blang Poroh Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan pada
tahun 1917. Beliau adalah putra bungsu
dari Syech H. Muhammad Salim bin Malin Palito. Ayah beliau berasal dari
Batu sangkar, Sumatra Barat. Beliau datang ke Aceh Selatan awalnya
dengan maksud sebagai da’i. Sebelumnya, paman beliau yang masyhur
dipanggil masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Peulumat yang nama
aslinya Syech Abdul Karim telah lebih dahulu menetap di Labuhan Haji.
Tak lama setelah Sheikh Muhammad salim menetap di Labuhan Haji, beliau dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Siti Janadat, putri seorang kepala desa yang bernama Keuchik Nya` Ujud yang berasal dari Desa Kota Palak, Kecamatan Labuhan Haji Aceh Selatan. Siti Janadat meninggal dunia pada saat melahirkan adik dari Syech Muda Waly. Beliau meninggal bersama bayinya. Syech Muhammad salim sangat menyayangi Syech Muda Wali melebihi saudaranya yang lain. Kemana saja beliau pergi mengajar dan berdakwah Syech Muda Waly selalu digendong oleh ayahnya. Mungkin Syech Muhammad Salim telah memiliki firasat bahwa suatu saat anaknya ini akan menjadi seorang ulama besar, apalagi pada saat Syech Muda Waly masih dalam kandungan, beliau bermimpi bulan purnama turun kedalam pangkuannya. Nama Syech Muda Waly pada waktu kecil adalah Muhammad Waly.
Perjalanan pendidikannya Syech Muda Waly belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil tentang tauhid, fiqh, dan dasar ilmu Bahasa Arab kepada ayahnya. Di samping itu beliau juga masuk sekolah Volks-School yang didirikan oleh Belanda. Setelah tamat sekolah Volks School, beliau dimasukkan ke sebuah pesantren di Ibukota Labuhan Haji, Pesantren Jam’iah Al-Khairiyah yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Ali yang dikenal oleh masyarakat dengan panggilan Teungku Lampisang dari Aceh Besar sambil beliau sekolah di Vervolg School. Setelah lebih kurang 4 tahun beliau belajar di pesantren Al-Khairiyah beliau diantarkan oleh ayahnya ke pesantren Bustanul Huda di Ibukota Kecamatan Blangpidie. Sebuah pesantren Ahlussunnah wal jama’ah sama seperti Pesantren Al-Khairiyah, yang dipimpin oleh seorang ulama besar yang datang dari Aceh Besar, Syekh Mahmud. Di pesantren Bustanul Huda, barulah beliau mempelajari kitab-kitab yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah seperti I’anatut Thalibin, Tahrir, dan Mahally dalam ilmu fiqh, Alfiyah dan Ibn ‘Aqil dalm ilmu Nahwu dan sharaf. Setelah beberapa tahun di Pesantren Bustanul Huda, terjadilah satu masalah antara beliau dengan gurunya, Teungku Syech Mahmud. Yaitu perbedaan perdapat antara beliau dengan gurunya tersebut tentang masalah berzikir dan bershalawat sesudah shalat di dalam masjid secara jahar.
Di kemudian harinya Syech Muda Waly ingin melanjutkan pendidikan ke pesantren lainnya di Aceh Besar, tetapi sebelumnya, ayah Syech Muda Waly, Haji Muhammad Salim meminta izin kepada Syech Mahmud, minta do’anya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke pesantren lainya dan yang terpenting meminta maaf atas kelancangan Syech Muda Waly berbeda pendapat dengan gurunya dalam masalah tersebut. Berkali-kali beliau dan ayahnya meminta ma’af kepada Syech Mahmud tetapi beliau tidak menjawabnya. Pada akhirnya setelah beliau kembali dari Sumatra Barat dan Tanah suci, Makkah, maka timbuLlah kasus di Kecamatan Blangpidie. Ada seorang ulama dari kaum Muda dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang bernama Teungku Sufi, mendirikan Madrasah Islahul Umum di Susuh, Blangpidie, berda’wah dan membangkitkan masalah-masalah khilafiyah.
Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Aceh Besar kepada ayahnya. Syech Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari pesantren Bustanul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancar. Sesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang dipimpin oleh Syekh H. Hasan Krueng Kale, ayahanda dari Syech H. Marhaban, menteri muda pertanian Indonesia pada masa Soekarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng Kale pada pagi hari, pada saat syech Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama. Di antara kitab yang dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syech Muda Waly mengikuti pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat terakhir Wa huwa hasbi wa ni’mal wakil. Setelah selesai pengajian Syech Muda Waly merasa bahwa syarahan-syarahan yang diberikan oleh Syech Hasan Krueng Kale tidak lebih dari pengetahuan yang beliau miliki dan apabila beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juga akan sanggup menjelaskan seperti syarahan yang dipaparkan oleh Syech Hasan Basri. Walaupun demikian beliau tetap menganggap Syech Hasan Krueng Kale sebagai guru beliau. Bagi Syech Muda Waly, cukuplah sebagai bukti kebesaran Syech Hasan Krueng Kale, apabila guru beliau Syech Mahmud Blang Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kurueng Kale. Syech Muda Waly hanya satu hari di Pesantren krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syech Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. Pesantren ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur’an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya. Syech Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al-Qur’an masih kurang. Inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri.
Tak lama setelah Sheikh Muhammad salim menetap di Labuhan Haji, beliau dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Siti Janadat, putri seorang kepala desa yang bernama Keuchik Nya` Ujud yang berasal dari Desa Kota Palak, Kecamatan Labuhan Haji Aceh Selatan. Siti Janadat meninggal dunia pada saat melahirkan adik dari Syech Muda Waly. Beliau meninggal bersama bayinya. Syech Muhammad salim sangat menyayangi Syech Muda Wali melebihi saudaranya yang lain. Kemana saja beliau pergi mengajar dan berdakwah Syech Muda Waly selalu digendong oleh ayahnya. Mungkin Syech Muhammad Salim telah memiliki firasat bahwa suatu saat anaknya ini akan menjadi seorang ulama besar, apalagi pada saat Syech Muda Waly masih dalam kandungan, beliau bermimpi bulan purnama turun kedalam pangkuannya. Nama Syech Muda Waly pada waktu kecil adalah Muhammad Waly.
Perjalanan pendidikannya Syech Muda Waly belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil tentang tauhid, fiqh, dan dasar ilmu Bahasa Arab kepada ayahnya. Di samping itu beliau juga masuk sekolah Volks-School yang didirikan oleh Belanda. Setelah tamat sekolah Volks School, beliau dimasukkan ke sebuah pesantren di Ibukota Labuhan Haji, Pesantren Jam’iah Al-Khairiyah yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Ali yang dikenal oleh masyarakat dengan panggilan Teungku Lampisang dari Aceh Besar sambil beliau sekolah di Vervolg School. Setelah lebih kurang 4 tahun beliau belajar di pesantren Al-Khairiyah beliau diantarkan oleh ayahnya ke pesantren Bustanul Huda di Ibukota Kecamatan Blangpidie. Sebuah pesantren Ahlussunnah wal jama’ah sama seperti Pesantren Al-Khairiyah, yang dipimpin oleh seorang ulama besar yang datang dari Aceh Besar, Syekh Mahmud. Di pesantren Bustanul Huda, barulah beliau mempelajari kitab-kitab yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah seperti I’anatut Thalibin, Tahrir, dan Mahally dalam ilmu fiqh, Alfiyah dan Ibn ‘Aqil dalm ilmu Nahwu dan sharaf. Setelah beberapa tahun di Pesantren Bustanul Huda, terjadilah satu masalah antara beliau dengan gurunya, Teungku Syech Mahmud. Yaitu perbedaan perdapat antara beliau dengan gurunya tersebut tentang masalah berzikir dan bershalawat sesudah shalat di dalam masjid secara jahar.
Di kemudian harinya Syech Muda Waly ingin melanjutkan pendidikan ke pesantren lainnya di Aceh Besar, tetapi sebelumnya, ayah Syech Muda Waly, Haji Muhammad Salim meminta izin kepada Syech Mahmud, minta do’anya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke pesantren lainya dan yang terpenting meminta maaf atas kelancangan Syech Muda Waly berbeda pendapat dengan gurunya dalam masalah tersebut. Berkali-kali beliau dan ayahnya meminta ma’af kepada Syech Mahmud tetapi beliau tidak menjawabnya. Pada akhirnya setelah beliau kembali dari Sumatra Barat dan Tanah suci, Makkah, maka timbuLlah kasus di Kecamatan Blangpidie. Ada seorang ulama dari kaum Muda dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang bernama Teungku Sufi, mendirikan Madrasah Islahul Umum di Susuh, Blangpidie, berda’wah dan membangkitkan masalah-masalah khilafiyah.
Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Aceh Besar kepada ayahnya. Syech Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari pesantren Bustanul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancar. Sesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang dipimpin oleh Syekh H. Hasan Krueng Kale, ayahanda dari Syech H. Marhaban, menteri muda pertanian Indonesia pada masa Soekarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng Kale pada pagi hari, pada saat syech Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama. Di antara kitab yang dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syech Muda Waly mengikuti pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat terakhir Wa huwa hasbi wa ni’mal wakil. Setelah selesai pengajian Syech Muda Waly merasa bahwa syarahan-syarahan yang diberikan oleh Syech Hasan Krueng Kale tidak lebih dari pengetahuan yang beliau miliki dan apabila beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juga akan sanggup menjelaskan seperti syarahan yang dipaparkan oleh Syech Hasan Basri. Walaupun demikian beliau tetap menganggap Syech Hasan Krueng Kale sebagai guru beliau. Bagi Syech Muda Waly, cukuplah sebagai bukti kebesaran Syech Hasan Krueng Kale, apabila guru beliau Syech Mahmud Blang Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kurueng Kale. Syech Muda Waly hanya satu hari di Pesantren krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syech Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. Pesantren ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur’an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya. Syech Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al-Qur’an masih kurang. Inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri.
Thursday, January 10, 2013
MAKAM KERKHOFF BELANDA DI BANDA ACEH
Kuburan tentara ini adalah salah satu yang
terluas di dunia. Sekitar 2.200 tentara termasuk empat orang jenderal
dimakamkan di sini, di tanah tempat para pejuang Aceh yang sangat gigih
melawan kolonialisme Belanda. Kuburan
Kerkhoff merupakan pemakaman terbesar kedua tentara Belanda setelah yang
pertama terbesar di Belanda. Kuburan Kerkhoff menjadi objek wisata
menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara asal Belanda.
Pada masa pendudukan Hindia Belanda, Masjid Agung Baiturrahman dikuasai tentara Belanda. Namun, pada periode pertama perang tersebut pada tahun 1873-1874, masyarakat Aceh berhasil menahan serangan Belanda. Johan Harmen Rodolf Kohler yang merupakan jenderal Belanda yang memimpin Perang Aceh kemudian terbunuh dan dimakamkan di Kerkhoff, Banda Aceh. Banyak hal menarik dapat ditemui di kompleks pemakaman ini. Seperti kisah para prajurit semasa hidupnya sampai pada saat dikubur. Semuanya diceritakan sekilas pada batu nisan sehingga makam ini seolah-olah sedang bercerita tentang masa hidupnya.
Ada yang unik di tengah-tengah kuburan tentara Belanda itu, terdapat sebuah kuburan yang terpisah dari yang lainnya, yaitu kuburan Meurah Pupok, satu-satunya putra kesayangan Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dihukum rajam oleh ayahnya sendiri Sultan Iskandar Muda karena berbuat zina. Meurah Pupok berbuat zina dengan istri seorang perwira muda yang menjadi pelatih dari angkatan perang Aceh, kemudian perwira tersebut melapor kepada Sultan Iskandar Muda untuk dilakukan penyelidikan. Akhirnya Meurah Pupok tertangkap dan dihukum rajam sampai mati oleh Sultan Iskandar Muda selaku ayahnya di depan umum, makam Kerkhoff tidak saja bukti nyata kepahlawanan rakyat Aceh melawan penjajah tetapi juga merupakan bukti nyata keadilan Sultan Iskandar Muda dalam menjunjung tinggi hukum di masa pemerintahannya.
Pada masa pendudukan Hindia Belanda, Masjid Agung Baiturrahman dikuasai tentara Belanda. Namun, pada periode pertama perang tersebut pada tahun 1873-1874, masyarakat Aceh berhasil menahan serangan Belanda. Johan Harmen Rodolf Kohler yang merupakan jenderal Belanda yang memimpin Perang Aceh kemudian terbunuh dan dimakamkan di Kerkhoff, Banda Aceh. Banyak hal menarik dapat ditemui di kompleks pemakaman ini. Seperti kisah para prajurit semasa hidupnya sampai pada saat dikubur. Semuanya diceritakan sekilas pada batu nisan sehingga makam ini seolah-olah sedang bercerita tentang masa hidupnya.
Ada yang unik di tengah-tengah kuburan tentara Belanda itu, terdapat sebuah kuburan yang terpisah dari yang lainnya, yaitu kuburan Meurah Pupok, satu-satunya putra kesayangan Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dihukum rajam oleh ayahnya sendiri Sultan Iskandar Muda karena berbuat zina. Meurah Pupok berbuat zina dengan istri seorang perwira muda yang menjadi pelatih dari angkatan perang Aceh, kemudian perwira tersebut melapor kepada Sultan Iskandar Muda untuk dilakukan penyelidikan. Akhirnya Meurah Pupok tertangkap dan dihukum rajam sampai mati oleh Sultan Iskandar Muda selaku ayahnya di depan umum, makam Kerkhoff tidak saja bukti nyata kepahlawanan rakyat Aceh melawan penjajah tetapi juga merupakan bukti nyata keadilan Sultan Iskandar Muda dalam menjunjung tinggi hukum di masa pemerintahannya.
Tuesday, January 8, 2013
TOWER AIR BELANDA ( MENARA AIR KERATON ACEH )
Menara Air Keraton, yang merupakan salah satu
peninggalan Arsitektur Kolonial Belanda di jalan Abu Lam U Kota Banda
Aceh. Menurut sejarah, perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan
dan pendistribusian air bersih di kota
Banda Aceh dirintis untuk pertama kalinya oleh Pemerintah Hindia-Belanda
pada tahun 1904 dengan nama Geni Water Leding yang berlokasi di
Keraton.
Pada tahun 1905 kegiatan produksi air bersih mulai berlangsung. Sumber air pada masa itu terletak di Glee Taron Mata ie. Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penampungan dan penyaluran air yang di peruntukan bagi militer dan pengawas sipil pemerintah.
Saturday, January 5, 2013
RUMOH ADAT ACEH
Rumoh Aceh adalah rumah tradisional Aceh.
Rumoh Aceh merupakan rumah panggung yang miliki tinggi beragam sesuai
dengan arsitektur si pembuatnya, namun pada kebiasaannya memiliki
ketinggian sekitar 2,5 - 3 meter dari atas tanah. Terdiri dari tiga atau lima ruangan di dalamnya, untuk ruang utama sering disebut dengan rambat.
Memasuki pintu utama rumoh Aceh, kita akan berhadapan dengan beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu pada umumnya. Untuk tingginya sendiri, pintu tersebut pasti lebih rendah dari tinggi orang dewasa. Biasanya tinggi pintu sekitar 120 - 150 cm dan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk, konon makna dari merunduk ini menurut orang-orang tua adalah sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya. Selain itu juga, ada yang menganggap pintu rumoh Aceh sebagai hati orang Aceh. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit untuk memasukinya, namun begitu kita masuk akan begitu lapang dada disambut oleh tuan rumah.
Memasuki pintu utama rumoh Aceh, kita akan berhadapan dengan beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu pada umumnya. Untuk tingginya sendiri, pintu tersebut pasti lebih rendah dari tinggi orang dewasa. Biasanya tinggi pintu sekitar 120 - 150 cm dan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk, konon makna dari merunduk ini menurut orang-orang tua adalah sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya. Selain itu juga, ada yang menganggap pintu rumoh Aceh sebagai hati orang Aceh. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit untuk memasukinya, namun begitu kita masuk akan begitu lapang dada disambut oleh tuan rumah.
Saat berada di
ruang depan ini atau disebut juga dengan seuramoe keu/seuramoe
reungeun, akan kita dapati ruangan yang begitu luas dan lapang, tanpa
ada kursi dan meja. Jadi, setiap tamu yang datang akan dipersilahkan
duduk secara lesehan atau bersila di atas tikar bak ngom (sejenis
tumbuhan ilalang yang ada di rawa lalu diproses dan dianyam) serta
dilapisi dengan tikar pandan.
Saat melihat rumoh Aceh, kita akan menjumpai terlebih dahulu dengan bagian bawahnya. Bagian bawah ini akrab disebut dengan yup moh/miyup moh, yakni bagian antara tanah dan lantai rumah. Lazimnya dibagian bawah ini bisa kita dapati berbagi benda, seperti jeungki (penumbuk padi) dan kroeng (tempat menyimpan padi). Tidak hanya itu, bagian yup moh juga sering difungsikan sebagai tempat bermain anak-anak, membuat kain songket Aceh yang dilakoni oleh kaum perempuan, bahkan bisa dijadikan sebagai kandang untuk peliharaan seperti ayam, itik, dan kambing.
Beranjak ke bagian dalam rumoh Aceh merupakan tempat dimana segala aktifitas tuan rumah, baik yang bersifat pribadi ataupun bersifat umum. Pada bagian ini, secara umum terdapat tiga ruangan, yaitu: ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.
Saat melihat rumoh Aceh, kita akan menjumpai terlebih dahulu dengan bagian bawahnya. Bagian bawah ini akrab disebut dengan yup moh/miyup moh, yakni bagian antara tanah dan lantai rumah. Lazimnya dibagian bawah ini bisa kita dapati berbagi benda, seperti jeungki (penumbuk padi) dan kroeng (tempat menyimpan padi). Tidak hanya itu, bagian yup moh juga sering difungsikan sebagai tempat bermain anak-anak, membuat kain songket Aceh yang dilakoni oleh kaum perempuan, bahkan bisa dijadikan sebagai kandang untuk peliharaan seperti ayam, itik, dan kambing.
Beranjak ke bagian dalam rumoh Aceh merupakan tempat dimana segala aktifitas tuan rumah, baik yang bersifat pribadi ataupun bersifat umum. Pada bagian ini, secara umum terdapat tiga ruangan, yaitu: ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.
Ruangan depan
atau disebut dengan seuramoe reungeun merupakan ruangan yang tidak
berbilik (berkamar-kamar). Dalam sehari-hari ruangan ini berfungsi untuk
menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat
anak-anak belajar mengaji saat malam atau siang hari. Disaat-saat
tertentu, seperti ada acara perkawinan atau acara kenduri, maka ruangan
inilah yang menjadi tempat penjamuan tamu untuk makan bersama.
Ruangan tengah yang disebut dengan seuramoe teungoh merupakan bagian inti dari rumoh Aceh, maka dari itu banyak pula disebut sebagai rumoh inong (rumah induk). Sedikit perbedaan dengan ruang lain, dibagian ruangan ini terlihat lebih tinggi dari ruangan lainnya. Di ruangan ini pula akan kita dapati dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan-kiri dengan posisi menghadap ke utara atau selatan dengan pintu yang menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik itu terdapat pula gang yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang. Rumoh inong biasanya ditempat untuk tidur kepala keluarga, dan anjong untuk tempat tidur anak gadis.
Ruangan belakang disebut seuramoe likot yang memiliki tinggi lantai yang sama dengan seuramoe reuyeun, serta tidak mempunyai bilik atau sekat-sekat kamar. Fungsinya sering dipergunakan untuk dapur dan tempat makan bersama keluarga, selain itu juga dipergunakan sebagai ruang keluarga, baik untuk berbincang-bincang atau untuk melakukan kegiatan sehari-hari perempuan seperti menenun dan menyulam.
Ruangan tengah yang disebut dengan seuramoe teungoh merupakan bagian inti dari rumoh Aceh, maka dari itu banyak pula disebut sebagai rumoh inong (rumah induk). Sedikit perbedaan dengan ruang lain, dibagian ruangan ini terlihat lebih tinggi dari ruangan lainnya. Di ruangan ini pula akan kita dapati dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan-kiri dengan posisi menghadap ke utara atau selatan dengan pintu yang menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik itu terdapat pula gang yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang. Rumoh inong biasanya ditempat untuk tidur kepala keluarga, dan anjong untuk tempat tidur anak gadis.
Ruangan belakang disebut seuramoe likot yang memiliki tinggi lantai yang sama dengan seuramoe reuyeun, serta tidak mempunyai bilik atau sekat-sekat kamar. Fungsinya sering dipergunakan untuk dapur dan tempat makan bersama keluarga, selain itu juga dipergunakan sebagai ruang keluarga, baik untuk berbincang-bincang atau untuk melakukan kegiatan sehari-hari perempuan seperti menenun dan menyulam.
Namun, ada
waktunya juga dapur sering dipisah dan malah berada di bagian belakang
seuramoe likot. Sehingga ruang tersebut dengan rumoh dapu (dapur)
sedikit lebih rendah lagi dibanding lantai seuramoe likot.
Setelah bagian bawah dan bagian dalam, kita lihat bagian atas dari rumoh Aceh. Tentunya bagian ini terletak di bagian atas seuramoe teungoh. Pada bagian tersebut sering diberi loteng yang memiliki fungsi untuk menyimpan barang-barang penting keluarga.
Setelah bagian bawah dan bagian dalam, kita lihat bagian atas dari rumoh Aceh. Tentunya bagian ini terletak di bagian atas seuramoe teungoh. Pada bagian tersebut sering diberi loteng yang memiliki fungsi untuk menyimpan barang-barang penting keluarga.
Thursday, January 3, 2013
SELAMAT DATANG DI MUSEUM TSUNAMI ACEH
Museum
Tsunami Aceh, di Banda Aceh adalah sebuah museum yang
dirancang sebagai monumen simbolis untuk mengenang bencana gempa bumi
tsunami aceh dan Samudra Hindia 26 Desember 2004, sekaligus pusat
pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.
* Desain Museum Tsnami Aceh.
Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan
Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas
2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di
dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua
dinding air yang tinggi untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan
saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman,
sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan
religius suku Aceh.
Dari atas, atapnya membentuk gelombang
laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh
yang selamat dari terjangan tsunami. Bangunan ini memperingati para
korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam
museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini. Selain
perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga
berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini di masa
depan, termasuk "bukit pengungsian" bagi pengunjung jika tsunami terjadi
lagi.
Tuesday, January 1, 2013
SEULAWAH RI 001 ( ACEH )
Dakota
RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia
yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat ini sangat besar
jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia. Pesawat
Seulawah RI-001 merupakan bukti nyata dukungan totalitas yang diberikan
Aceh dalam proses persalinan republik ini. Seulawah RI-001 yang
merupakan cikal bakal Garuda Indonesia Airways, merupakan instrumen
paling penting dan efektif dalam tahap paling awal perjuangan
mempertahankan kemerdekaan.
Di Hotel Atjeh, Banda Aceh,
Presiden Soekarno angkat bicara, saya tidak akan makan malam ini, kalau
dana untuk itu belum terkumpul. Saudagar dan tokoh masyarakat Aceh
saling melirik, lalu, salah seorang dari mereka bangun. Namanya M
Djoened Joesof, saya bersedia, sahut Djoened Joesof yang juga menjabat
ketua Gasida. Selanjutnya menyusul kesediaan saudagar lainnya.
Adegan jamuan makan malam itu merupakan bagian penting dari episode
keikhlasan rakyat Aceh mengumpulkan dana untuk pembelian pesawat
terbang, dalam pidatonya di sebuah rapat akbar di Lapangan Blang Padang
Banda Aceh. Keeseokan harinya, 17 Juni 1948, Soekarno menyatakan hal
itu.” Kedatangan saya ke Aceh ini khusus untuk bertemu dengan rakyat
Aceh, dan saya mengharapkan partisipasi yang sangat besar dari rakyat
Aceh untuk menyelamatkan Republik Indonesia ini,” begitu katanya memohon
kesediaan Rakyat Aceh untuk terus membantu Indonesia.
Ketika
Soekarno mengakhiri kunjungannya di Aceh pada 20 juni 1948, dana yang
terkumpul untuk pembelian pesawat itu berjumlah 120.000 dollar Singapura
dan 20 kg emas. Dana tersebut dihimpun dari masyarakat Aceh oleh
Panitia Dana Dakota (Dakota Found) di Aceh yang dipimpin HM Djoened
Joesof dan said Muhammad Alhabsyi. Lalu berkat keikhlasan dan ketulusan
rakyat Aceh itulah, terkumpul dana dan emas yang cukup untuk membeli
pesawat Dakota. Pesawat sumbangan Aceh inilah yang kelak menjadi pesawat
angkut pertama Indonesia dan menjadi cikal bakal lahirnya Garuda
Indonesia Airways.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk
membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang
dimiliki bangsa Indonesia, pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu
kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
